Elektro dipecah menjadi 3 prodi. Ya, hal itulah yang saat ini tengah marak di bicarakan baik di kalangan mahasiswa maupun dosen. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Di kalangan mahasiswa sendiri hal ini memicu timbulnya paham chauvinisme yang menurut penulis sedikit “berlebihan”. Paham ini kerap kali muncul, terutama ketika ada ajang yang mempertemukan antar “calon prodi” tersebut seperti EL games yang belum lama berakhir.
“Sebenarnya perlu engga sih pemecahan prodi?”. “ Apa sih untungnya kalo prodi dipecah menjadi 3?”. Mungkin pertanyaan seperti itulah yang banyak muncul di benak mahasiswa elektro saat ini. Di satu sisi pihak rektorat berdalih ilmu pengetahuan semakin berkembang dan apabila prodi elektro tidak dipecah membuat bidang keilmuan yang dicakup prodi elektro terlalu luas. Pemecahan prodi akan membuat bidang yang dipelajari setiap prodi nantinya menjadi lebih spesifik dan lebih dalam.
Di sisi lain pemecahan prodi memiliki konsekuensi harus didirikannya 2 buah himpunan baru, yaitu himpunan untuk mahasiswa Telkom dan mahasiswa power. Lantas, apakah himpunan yang sudah ada sekarang, Himpunan Mahasiswa Elektroteknik, akan otomatis ditempati oleh mahasiswa-mahasiswa prodi elektro? Mengingat saat ini jumlah mahasiswa terbanyak ditempati oleh Telkom, sedangkan power merupakan subjurusan paling tua yang ada di elektro saat ini.
Di pihak dosen sendiri ada yang terang-terangan menolak pemecahan ini dan ada pula yang mendukung. Seorang dosen yang saya kenal, sebut saja dosen A, kerap kali menegaskan penolakannya akan pemecahan prodi dengan cara menyindir calon-calon prodi ketika beliau sedang mengajar di kelas. Apa yang disindir dan cara menyindirnya tidak perlu penulis bahas di sini, namun beliau secara tegas menyatakan menolak rencana pemecahan prodi meskipun beliau memiliki latar belakang dari salah satu calon prodi.
Well.. setuju atau tidak terhadap pemecahan prodi ini, pada akhirnya kita sebagai mahasiswa hanya bisa menerima. Perlu atau tidak pun merupakan keputusan mutlak pihak rektorat. Jadi, pemecahan elektro menjadi 3 prodi, perlukah?